Motor matik atau skutik selama ini kerap dipandang hanya sebagai kendaraan harian yang praktis dan sederhana. Namun pandangan itu bisa berubah ketika masuk ke tangan para penggemar modifikasi yang kreatif dan teliti. Bukan sekadar mengganti aksesori, mereka mampu mengubah tampilan kendaraan standar menjadi karya yang memiliki karakter kuat, sekaligus tetap mempertahankan fungsi utama sebagai alat transportasi.
Salah satu contoh menarik terlihat pada Suzuki Nex FI keluaran tahun 2013 milik Anggit SN, warga Cilandak, Jakarta Selatan. Motor yang awalnya berdesain kompak dan fungsional ini disulap menjadi kendaraan bergaya unik yang terinspirasi dari salah satu legenda motor mini di tahun 1990-an, yaitu Kawasaki KSR-II 80 produksi tahun 1994. Hasil akhirnya berhasil memadukan unsur nostalgia, estetika, dan tetap menjaga kenyamanan saat dikendarai.
Konsep Berangkat dari Kenangan dan Kecocokan Warna
Kawasaki KSR-II sendiri merupakan model motor mini bergaya trail yang cukup populer pada masanya. Dengan ukuran yang ringkas, posisi duduk tegak, dan kemampuan melintasi jalan tidak rata, motor ini menjadi favorit anak muda dan penggemar kendaraan berkarakter lincah. Kini, karakter tersebut dihadirkan kembali pada bodi dan sasis Suzuki Nex FI yang memiliki dimensi serupa.
“Konsep utamanya memang terinspirasi langsung dari Kawasaki KSR-II tahun 1994. Saya ingin menghadirkan kembali kesan klasik namun tetap bisa dikendarai untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Anggit saat berbincang dengan Kompas.com. Pemilihan warna hijau dan putih juga bukan tanpa alasan. Ia menyesuaikan skema cat tersebut dengan data yang tertera dalam Surat Tanda Nomor Kendaraan agar tetap sesuai ketentuan administrasi.
Sekilas melihat, perbedaan dengan bentuk aslinya sangat mencolok. Posisi berkendara yang biasanya agak membungkuk pada skutik kini diubah menjadi lebih tegak, persis seperti posisi duduk pada motor trail. Penambahan lampu depan ganda dan penggunaan ban dengan motif kasar semakin memperkuat kesan kendaraan yang tangguh dan siap melibas berbagai kondisi jalan.
Utamakan yang Mudah Didapat dan Terpercaya
Dalam mewujudkan idenya, Anggit tidak sembarangan memilih suku cadang. Ia lebih mengutamakan komponen orisinal pabrikan atau yang sering disebut sebagai Original Equipment Manufacturer (OEM) yang banyak beredar di pasaran. Hal ini dilakukan agar kualitas dan keawetan motor tetap terjaga, serta memudahkan proses perawatan di kemudian hari.
Untuk bagian kemudi, ia menggunakan kokpit milik Honda BeAT Street yang dipadukan dengan setang tinggi dari model Honda Tiger Revo. Kombinasi ini dinilai paling pas untuk menciptakan posisi tangan yang nyaman dan tegak saat melaju, baik di jalan raya maupun jalan lingkungan yang berkelok.
Pada sektor kaki-kaki, terpasang velg berukuran 12 inci milik Honda Scoopy generasi kelima. Velg ini kemudian dibalut ban merek Zeneos dengan motif tapak lebar yang cocok untuk jalan kering maupun basah. Sementara itu, suara dan tampilan bagian belakang diperkuat dengan pemasangan knalpot standar dari Kawasaki KLX, yang memberikan nada khas namun tetap tidak melanggar batas kebisingan yang diizinkan.
Bagian pencahayaan menjadi salah satu daya tarik utama ubahan ini. Di bagian depan, terpasang lampu utama model ganda hasil modifikasi yang mengadopsi desain lampu Suzuki TS, sementara lampu belakang menggunakan model yang populer di pasar Thailand, yaitu milik Yamaha Ayago. Desain dua reflektor ini membuat tampilan belakang motor terlihat lebih lebar dan seimbang.
“Memang ada beberapa bagian yang harus disesuaikan atau dibuatkan dudukan baru, tapi sebisa mungkin saya pakai komponen yang sudah ada di pasaran. Selain harganya lebih terjangkau, kualitasnya sudah teruji,” jelas Anggit.
Menjaga Proporsi dan Keserasian Bentuk
Proses pengerjaan motor ini tidak berlangsung dalam waktu singkat. Anggit mengaku membangunnya hampir dari kondisi kosong. Sebagian besar panel bodi asli dilepas dan diganti dengan bentuk baru yang lebih sesuai dengan konsep yang diinginkan. Tantangan terbesarnya bukanlah sekadar memasang komponen satu per satu, melainkan menyatukannya agar terlihat serasi.
“Banyak modifikasi yang terlihat aneh karena tidak memperhatikan ukuran dan perbandingan antar bagian. Saya mengerjakannya perlahan, beberapa kali harus mengubah bentuk dudukan atau memotong sedikit bagian bodi agar akhirnya terlihat pas dan proporsional,” tambahnya.
Perhatian terhadap detail ini membuat hasil akhirnya terlihat rapi. Tidak ada bagian yang terlihat dipaksakan atau tergantung longgar. Bahkan, ruang penyimpanan di bawah jok tetap berfungsi meski bentuk bodi luar sudah berubah drastis. Mesin dan sistem kelistrikan tetap dalam kondisi standar pabrik, sehingga tenaga dan konsumsi bahan bakar tetap terjaga seperti semula.
Biaya dan Nilai Lebih dari Sebuah Karya
Dari segi biaya, keseluruhan proses modifikasi ini menghabiskan dana sekitar Rp 20 juta. Anggit menyebutkan bahwa pengeluaran terbesar justru tidak berasal dari harga komponen, melainkan pada biaya pengerjaan, penyesuaian bentuk bodi, dan proses pengecatan agar hasil akhirnya halus dan tahan lama.
Bagi sebagian orang, angka ini mungkin terasa cukup besar untuk sebuah skutik keluaran tahun 2013. Namun bagi pemiliknya, ini adalah bentuk investasi waktu dan rasa cinta terhadap kendaraan. Motor ini tidak lagi sekadar alat angkut, melainkan cerminan selera dan kesabaran dalam merangkai sebuah karya.
Modifikasi ini juga membuktikan bahwa kendaraan dengan harga terjangkau dan spesifikasi standar bisa berubah menjadi kendaraan yang memiliki identitas kuat. Kuncinya ada pada persiapan konsep yang matang, pemilihan komponen yang tepat, serta ketelitian dalam pengerjaan. Hasilnya adalah Suzuki Nex FI yang tetap nyaman dipakai sehari-hari, namun memiliki tampilan yang unik dan jarang dimiliki orang lain.



