Di tengah duka mendalam dan upaya membersihkan puing, pemerintah Venezuela menghadapi tantangan besar lainnya yaitu keterbatasan dana untuk membiayai rekonstruksi dan bantuan kemanusiaan. Presiden Sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, mengaku situasi ini mendesak, sehingga ia mengajukan permohonan pencairan aset negara yang selama ini dibekukan di luar negeri.
Dalam siaran langsung di televisi pemerintah pada Rabu (8/7/2026), Rodriguez mengumumkan telah mengirimkan surat resmi kepada Raja Inggris Charles III. Isinya meminta otoritas London melepaskan akses terhadap sekitar 30 ton cadangan emas Venezuela yang disimpan di Bank of England. Aset tersebut menjadi salah satu yang dibekukan sebagai dampak dari sanksi internasional yang diberlakukan selama beberapa tahun terakhir.
“Emas ini adalah milik sah rakyat Venezuela. Kami tidak meminta bantuan amal, melainkan meminta agar aset kami sendiri dikembalikan agar bisa digunakan untuk mengatasi bencana ini. Dana tersebut sangat dibutuhkan untuk membangun kembali rumah sakit, sekolah, jembatan, serta menyediakan tempat tinggal dan kebutuhan pokok bagi warga yang kehilangan tempat tinggal,” tegas Rodriguez seperti dikutip kantor berita AFP.
Permintaan ini menuai perhatian dunia internasional. Di satu sisi, pemerintah Venezuela menekankan keadaan darurat kemanusiaan yang membutuhkan pendanaan segera. Namun di sisi lain, otoritas di Inggris belum memberikan tanggapan resmi apakah akan mencairkan aset tersebut meski dalam situasi bencana.
Dukungan dan Negosiasi Internasional
Selain mengajukan permohonan ke Inggris, Venezuela juga berusaha membuka akses ke sumber pendanaan lain. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah meluncurkan kampanye penggalangan dana untuk pemulihan pascabencana dengan target sebesar 300 juta dolar AS. Dana ini dialokasikan untuk bantuan pangan, air bersih, layanan kesehatan darurat, dan tempat tinggal sementara bagi ribuan warga yang mengungsi.
Sementara itu, pemerintah Venezuela juga sedang membuka jalur negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Tujuannya adalah untuk membahas kemungkinan pencairan sebagian aset keuangan negara yang masih terblokir, serta memfasilitasi pinjaman darurat khusus untuk kebutuhan rekonstruksi. Proses ini diperkirakan memakan waktu dan membutuhkan persetujuan berbagai pihak.
Para pengamat kemanusiaan menilai bahwa tanpa dukungan pendanaan yang cukup dan cepat, proses pemulihan di Venezuela akan berjalan sangat lambat. Ribuan warga saat ini masih bertahan di tempat penampungan sementara dengan fasilitas terbatas, sementara risiko penyebaran penyakit menular meningkat seiring dengan kondisi sanitasi yang belum memadai.
Baca Juga! Haaland Sebut Inggris Unggulan Juara Piala Dunia 2026
Harapan di Tengah Keterbatasan
Hingga saat ini, pemerintah terus berkoordinasi dengan lembaga kemanusiaan internasional dan negara-negara sahabat untuk memastikan bantuan terus mengalir. Sumbangan berupa obat-obatan, peralatan medis, tenda, serta makanan dan air bersih mulai masuk ke wilayah terdampak, meskipun distribusinya masih terhambat oleh kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan.
“Kami berjuang untuk melindungi rakyat kami. Setiap aset milik negara harus dapat diakses saat keadaan darurat seperti ini. Kami berharap dunia melihat kenyataan di lapangan dan memfasilitasi pemulihan ini tanpa hambatan politik,” pungkas Rodriguez dalam pernyataan terbarunya.
Bagi warga Venezuela, selain memulihkan bangunan dan fasilitas umum, tantangan terbesar adalah memulihkan kehidupan sosial dan psikologis mereka yang kehilangan sanak saudara serta tempat tinggal. Kecepatan pemulihan ini sangat bergantung pada dukungan dana, akses aset negara, dan kerja sama komunitas internasional untuk membantu keluar dari keterpurukan pascabencana ini.

