Bisnis  

Uwais Thoriq Nabhan: Membaca IHSG di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Volatilitas Indeks Dunia, dan Arus Modal Global

Uwais Thoriq Nabhan, praktisi pasar modal, Independent Researcher, wirausahawan, dan Founder Nabhan Capital.
Uwais Thoriq Nabhan, praktisi pasar modal, Independent Researcher, wirausahawan, dan Founder Nabhan Capital.

Jakarta, 25 September 2026 – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi perhatian seiring volatilitas pasar yang masih berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi dan keuangan global. Fluktuasi tersebut bahkan terlihat cukup jelas dalam empat perdagangan terakhir.

Pada Senin (21/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,88% ke level 6.384,73. Tekanan berlanjut pada Selasa (22/9), ketika indeks terkoreksi lebih dalam 1,69% ke level 6.277,04. IHSG kemudian rebound 1,56% pada Rabu (23/9) ke level 6.374,91, sebelum kembali terkoreksi 1,20% pada perdagangan Kamis (24/9) dan ditutup kembali melemah 0,90% pada Jumat (25/9) ke level 6.241,89. Dengan demikian, dalam lima sesi tersebut, IHSG bergerak turun-naik dengan rentang yang cukup lebar, sementara tekanan jual asing juga masih terlihat pada sejumlah perdagangan.

Tekanan terhadap IHSG telah berlangsung selama beberapa pekan bahkan bulan. Pada pekan 14–18 September saja, IHSG terkoreksi sekitar 1,53% dan disertai foreign outflow sekitar Rp2,9 triliun di pasar reguler. Bahkan sepanjang periode tersebut, indeks beberapa kali bergerak melemah sebelum sempat mengalami rebound singkat.

Tekanan tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan lanskap pasar global. The Federal Reserve menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75%–4,00% pada September, sementara Bank of Japan juga menaikkan suku bunganya. Di sisi lain, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah turut mendorong harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi serta biaya pendanaan global.

Reuters bahkan mencatat bahwa kenaikan harga energi dan biaya pinjaman global mulai meningkatkan kekhawatiran terhadap kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan pertumbuhan.

Kondisi tersebut kemudian beririsan dengan faktor domestik, pergerakan rupiah, arah suku bunga BI, serta dinamika arus modal. Bank Indonesia pada 23 September memutuskan mempertahankan BI-Rate di 5,75% dan secara eksplisit menyebut ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi.

Sementara aliran investasi portofolio asing pada kuartal III hingga 21 September masih mencatat net inflow US$0,4 miliar, terutama ditopang instrumen SBN. Rangkaian perkembangan tersebut, menurut praktisi pasar modal sekaligus Independent Researcher dan Founder Nabhan Capital, Uwais Thoriq Nabhan, menunjukkan bahwa volatilitas IHSG saat ini perlu dibaca dalam perspektif yang lebih panjang.

“Kalau kita hanya melihat lima hari terakhir, kita akan melihat IHSG seperti sedang bergerak sangat fluktuatif dan tertekan. Tetapi kalau ditarik sedikit lebih ke belakang, sebenarnya kita sedang melihat sebuah fase volatilitas yang sudah berlangsung beberapa pekan bahkan bulan terakhir dan dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik maupun global,” ujar Uwais.

Menurut Uwais Thoriq, pergerakan IHSG saat ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan ekspektasi investor terhadap suku bunga global, yield obligasi, nilai tukar, harga komoditas, kondisi geopolitik, hingga arah arus modal. “Jadi ini bukan sekadar cerita IHSG turun satu hari kemudian naik satu hari. Ada perubahan dalam risk perception dan risk appetite investor yang sedang berlangsung. Pasar sedang melakukan repricing terhadap sejumlah risiko dan ekspektasi,” jelasnya.

IHSG tidak selalu mencerminkan keseluruhan ekonomi. Menurut Uwais Nabhan, salah satu kekeliruan yang masih sering terjadi adalah menyamakan pergerakan IHSG dengan kondisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Ia menilai IHSG memang memiliki hubungan erat dengan perekonomian, tetapi bukan merupakan cermin sempurna dari seluruh aktivitas ekonomi nasional.

“Ketika IHSG naik, kita tidak bisa langsung mengatakan seluruh perekonomian sedang membaik. Begitu juga ketika IHSG turun, tidak berarti seluruh fundamental ekonomi Indonesia sedang memburuk,” jelasnya.

Uwais menambahkan bahwa komposisi indeks, kapitalisasi pasar emiten, rotasi sektoral, serta kontribusi saham-saham berkapitalisasi besar perlu diperhatikan untuk memahami kualitas sebuah pergerakan indeks.

“Yang menarik bukan hanya IHSG naik berapa persen, tetapi saham apa yang menggerakkan indeks, berapa banyak saham yang ikut naik, sektor mana yang memimpin, bagaimana volumenya, dan apakah pergerakan tersebut didukung oleh fundamental,” ujar Uwais.

Pandangan tersebut menjadi relevan ketika melihat perdagangan beberapa hari terakhir. Pada 22 September, misalnya, sebanyak 10 dari 11 sektor IDX-IC terkoreksi ketika IHSG turun 1,69%. Sehari kemudian, indeks justru rebound 1,56%, tetapi investor asing masih mencatatkan outflow di pasar reguler sekitar Rp468 miliar.

Di tengah meningkatnya integrasi pasar keuangan global, Uwais Thoriq Nabhan menilai investor Indonesia juga harus memperhatikan apa yang terjadi di luar negeri. Pergerakan indeks saham global, kebijakan bank sentral utama, yield obligasi Amerika Serikat, harga komoditas, geopolitik, hingga perubahan risk appetite investor global dapat memberikan tekanan maupun katalis terhadap pasar domestik.

“Tidak berarti ketika Wall Street turun, IHSG pasti turun. Begitu juga sebaliknya. Tetapi perubahan global risk appetite dapat mengubah preferensi investor terhadap aset berisiko, termasuk emerging market seperti Indonesia,” paparnya.

Menurut Uwais, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana external shock tersebut diterjemahkan oleh pasar domestik. Indonesia memiliki karakteristik fundamental, struktur pasar, komposisi sektor, kebijakan moneter, dan kondisi fiskalnya sendiri. Karena itu, pengaruh global tetap harus dibaca bersama dengan faktor domestik.

Menurutnya, investor domestik juga memiliki peran yang semakin penting dalam menjaga kedalaman pasar. Namun, kekuatan investor domestik tidak berarti Indonesia sepenuhnya terisolasi dari dinamika modal global. Bank Indonesia sendiri masih menempatkan ketahanan eksternal dan stabilitas rupiah sebagai perhatian penting. Dalam keputusan September 2026, BI mempertahankan BI-Rate di 5,75% dan menyebut ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi. Hingga 21 September, investasi portofolio asing pada triwulan III tercatat net inflow US$0,4 miliar, sementara rupiah berada di Rp17.855 per dolar AS pada 22 September.

Bagi Uwais, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa membaca IHSG tidak dapat dipisahkan dari pasar obligasi, pasar valas, dan kebijakan moneter. “Pasar saham, pasar obligasi, dan pasar valuta asing itu saling terhubung. Jangan membaca IHSG seolah-olah dia berdiri sendiri,” ujarnya.

Dalam kondisi pasar yang volatil, Uwais juga mengingatkan investor agar tidak terjebak pada narasi bahwa penurunan harga otomatis berarti saham tersebut murah. “Price turun belum tentu undervalued. PER rendah belum tentu murah. PBV rendah juga belum tentu pasar salah menghargai perusahaan,” tegasnya. Menurutnya, investor harus memahami alasan di balik valuasi tersebut. Pasar mungkin sedang memberikan discount karena adanya risiko terhadap pertumbuhan laba, kualitas aset, struktur modal, tata kelola, industri, atau prospek perusahaan. Sebaliknya, saham dengan valuasi tinggi juga tidak otomatis mahal apabila pasar memiliki ekspektasi pertumbuhan yang memang tinggi dan dapat direalisasikan.

Lebih jauh, Uwais Nabhan mengatakan bahwa investor sebaiknya membangun kerangka analisis yang menghubungkan sejumlah variabel, bukan hanya menggunakan satu indikator. “Setidaknya terdapat beberapa mata rantai penting yang perlu diperhatikan: kondisi ekonomi, arah suku bunga dan likuiditas, nilai tukar, arus modal, valuasi, kinerja laba emiten, hingga sentimen pasar” lanjut Uwais.

Ia pun mengingatkan bahwa dalam menghadapi ketidakpastian global, investor sebaiknya tidak berusaha menebak setiap gerakan IHSG. “Tidak ada yang bisa mengendalikan volatilitas pasar. Tetapi investor bisa mengendalikan cara mereka membaca risiko, menentukan valuasi, dan membuat keputusan,” pungkas Uwais.

Dengan demikian, bagi Uwais, membaca IHSG di tengah ketidakpastian bukanlah sekadar mencari arah indeks berikutnya. Yang jauh lebih penting adalah memahami hubungan antara ekspektasi, fundamental, likuiditas, kebijakan moneter, nilai tukar, arus modal, dan risiko global. Karena harga saham pada akhirnya merupakan hasil dari bagaimana seluruh informasi tersebut diterjemahkan oleh pasar.

Kredit: Uwais Thoriq Nabhan, seorang praktisi Pasar Modal, Independent Researcher, wirausahawan, dan Founder Nabhan Capital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *